SETTLE FOR LESS

by - 12:36 AM


HAPPY BIRTHDAY MAS FATHIR-KU SAYAAAANGGGG!!!

Sebetulnya yang ulang tahun Douglas Booth sih tapi karena dia salah satu jelmaan karakter di novel gue (Settle for Less sebagai Fathir) makanya gue excited banget pas lihat postingannya Douglas di instagram. Selain itu, Kadek Devi sebagai jelmaan karakter gue di novel ini (Nesha) juga baru aja melahirkan dua anak kembar yang unyu-unyu. Unch unch, ku senang sekali buka instagram isinya hal-hal yang positif begini.



Sebagai hadiah ulang tahun dari gue untuk mereka (apa ini), gue mau revisi novel gue itu agar lebih layak untuk dibaca. Nah, selama seminggu ini gue sibuk di depan laptop gue. Edit halaman per halaman dari novel itu yang isinya sekitar 250 halaman Microsoft Words! Huhuhu..

Tapi tidak apa-apa. Demi Fathir dan Nesha, aku sudah menyiapkan mental untuk meng-edit semua kekacauan ini...

Kalau mau baca novel aing ini, bisa di Wattpad gue tapi link lebih spesifiknya ada di sini : https://www.wattpad.com/story/17949649-settle-for-less

Oh iya, gue juga pernah buat postingan tentang novel ini sih di blog. Kemungkinan bakalan gue jadikan draft aja karena enggak layak baca haha. Sebagai gantinya, gue copy bab 1, 2, 3, dan 4 nya ke sini. Selamat membaca!!!


SETTLE FOR LESS


 1 – Naik Bis?


-awal tahun 2014-
Suasana di Bekasi ini cukup terik. Banyak dari mereka yang menutup wajahnya dari teriknya matahari pagi. Meskipun pagi hari tapi efek global warming cukup besar, belum lagi daerah perkotaan membuat matahari seperti di ubun-ubun. Banyak dari mereka yang menghindar dari sinar matahari ini. Ada yang sedang berjalan di trotoar menggunakan payung. Ada juga yang sedang menunggu bis sambil menutup pelipis dahinya seperti cowok ini.
“Sial.” umpatnya kesal.
“Kalau mobil gue enggak disita bokap, kagak bakal gue naik bus kayak gini,” Dalam hati dia masih menggumam kesal. Cowok ini sebetulnya agak malas keluar rumah, apalagi situasi tidak mendukung. Mobilnya kena sita Papanya sendiri. Tapi berhubung dia ada jadwal konsul skripsi dengan dosennya siang ini, mau tak mau dia menerjang panas terik pagi ini.
Matanya melebar melihat bis yang mengarah ke Kampung Rambutan akan menepi di pinggir jalan. Dia berlari cepat mendekati bus itu, tak memperdulikan penumpang lain yang berhamburan ingin masuk.
Padahal ini bukan halte. Tapi yang naik bis kok banyak banget? Pikirnya dalam hati.
Di dalam bis, matanya menyusuri tiap kursi yang masih kosong. Akhirnya dia memutuskan duduk di kursi tiga paling belakang, dekat jendela. Dia sempat menghela napas lega karena berhasil melewati panas teriknya kota Bekasi. Tangannya merangkak naik, membuka jendela yang ada di sampingnya. Berharap embusan angin dapat menenangkan betapa panas hatinya sekarang.
Perlahan namun pasti, bis ini jalan juga. Cowok ini melirik jam tangannya. Jam 10.23. Kalau perkiraan kasar gue sih, bisa sampai jam setengah dua belas. Itu juga udah ditambah macet di Cibubur, belum lagi di Depok. Pikirnya. Tapi ketika sampai di Halte Tol Bekasi Barat, bis ini ngetem kembali. Aduh! Kapan nyampenya kalau begini!
Dia menoleh ke arah jendela. Ah, capek gue kalau ngarep ini bis cepat jalan. Gumamnya. Padahal sudah sesiang ini, mana mungkin akan ada banyak penumpang?
“Permisi Ibu, Bapak, Kakak, silahkan dibaca bukunya...” Seorang bapak-bapak memberikan tiga buah buku kepada cowok ini, membuat ia tersadar dari lamunannya. Hah? Ini bapak-bapak kasih gue buku? Pikirnya bingung melihat buku yang berserakan di sampingnya.
“Jika berminat, bisa membeli dengan harga sepuluh ribu rupiah untuk buku anak, dua puluh ribu untuk kamus dan...”
Oh, promosi buku rupanya, kirain gratis. Cowok ini kembali memejamkan matanya. Suasana bis cukup ramai dengan suara obrolan penumpang dan tentu saja tukang jualan buku itu. Tetapi cowok ini tetap memejamkan matanya, menganggap semua suara ini akan menidurkan dirinya.
Terdengar suara berisik dari depan pintu bis. Cukup gaduh karena sempat terdengar bunyi gitar, alat musik pukul (seperti drum mungkin?), dan juga derap kaki. Mata cowok ini kembali terbuka sedikit demi sedikit, melihat pemandangan di depan bis.
Ada tiga orang yang masuk ke dalam bis dengan penampilan berbeda. Satu cewek, dua cowok. Cewek itu menggunakan topi yang diputar ke belakang, dengan kaus hitam, celana jeans selutut, dan gitar di genggamannya. Sementara satu cowok lagi memakai kaus hitam oblong, celana jeans, dan juga memegang gitar. Lain halnya dengan cowok yang tersisa. Dia memakai kaus dengan jaket hitam dan celana jeans sambil membawa kajoon. Tau kajoon? Alat musik yang dipukul, biasanya digunakan untuk pengganti alat pukul dalam musik akustik.
Cewek itu berjalan ke tengah bis sambil membawa gitarnya. Cowok yang membawa kajoon itu tetap setia berada di depan bis. Sementara cowok sisanya berjalan agak dekat ke belakang, sehingga wajahnya terlihat jelas oleh cowok yang duduk ini.
Hmm? Cowok ini mukanya bukan tipe-tipe pengamen biasanya? Pikirnya sedikit bingung.
Seperti yang kita tau biasanya pengamen itu bertato, badannya kurus, berkulit gelap, belum lagi seragamnya hitam-hitam. Tapi pengamen ini tidak. Dia berkulit putih bersih, wajahnya juga tidak jelek, bahkan masuk dalam kategori lumayan. Sempat ada cekikikan dari cewek-cewek yang duduk di depan saat melihat cowok itu masuk. Sementara cowok yang sedang duduk ini, melirik ke cewek yang berdiri di tengah bis.
Bis ini mulai berjalan pelan. Cewek itu berusaha menyeimbangkan badannya agar tidak jatuh. Dia masih menunduk karena sibuk menyetem gitar di tangannya itu. Sampai akhirnya dia mendongak dan tersenyum lebar.
Cowok yang masih terduduk ini tertegun.
“Selamat pagi, semua.” Cewek itu masih tersenyum membuat cowok ini seketika sadar dari kantuknya. Astaga, Tuhan. Serunya kaget.
“Kami dari kumpulan musisi jalanan.” Dia menekan akhirnya. “Akan menghibur Anda-Anda semua dalam bis ini. Kami akan membawa tiga lagu untuk menemani perjalanan Anda menuju Kampung Rambutan,” katanya dengan lembut tapi terdengar keras.
Cowok ini tidak bisa mengalihkan pandangannya dari cewek itu. Matanya memerhatikan cewek ini dari atas ke bawah, melihat setiap detailnya. Cewek ini terlalu sempurna untuk jadi pengamen!
“Lagu pertama berjudul Wherever You Are. Selamat menikmati.”
Terdengar intro lagu dari gitar yang dibawa cewek itu. Bibirnya masih menyunggingkan senyumnya, tangannya tetap sibuk memainkan gitarnya. Sepintas, dia mirip sekali dengan Sheryl Sheinafia jika bermain gitar.
For a while we pretended....”
Gila! Suaranya bagus banget lagi! Pikir cowok itu lagi. Prenounciation-nya juga perfect banget, enggak mungkin cewek ini pengamen biasa! Cowok ini menatap cewek itu tidak percaya. Mungkin kesannya gampangan banget kalau liat cewek cakep tapi coba kalau kalian di posisi dia sekarang, yang sejak tadi hanya melihat ibu-ibu gendut gendong anaknya berseliweran.
Dia sempat melihat cewek ini berduet dengan kawan di sebelahnya ini. Oh ya ya. Mata cowok ini berputar malas. Dia baru ingat lagu ini dibawakan oleh dua orang.
Mereka memang membawa tiga lagu. Lagu pertama Wherever You Are, kedua Iris, dan ditutup dengan lagu beat. Cowok ini kurang tau lagu terakhirnya tapi yang jelas, dia menikmati suguhan dari ‘pengamen-pengamen’ ini. Tanpa sadar matanya menatap cewek ini tak berkedip. Sampai-sampai dia tidak sadar bis ini akan keluar tol yang berarti akan segera sampai.
“Terima kasih para penumpang bis yang telah menikmati lagu dari kami. Semoga suguhan dari kami menghibur Anda semua ‘dan’ maaf jika telah mengganggu perjalanan Anda. Sekali lagi, terima kasih. Permisi..” Dia mengeluarkan bungkus permen besar untuk menampung uang tersebut.
Teman cewek itu yang tadinya berdiri di belakang bis, langsung berjalan mendekati. Dia mengintil di belakang cewek itu sambil memetik gitarnya, membuat cewek itu tersenyum senang. Cowok itu bernyanyi mengiringi sang cewek di belakangnya. Cewek ini terus menerima uang seraya mengucapkan terima kasih.
Lalu tibalah cewek itu di hadapan cowok yang terdiam tadi. Dia memajukan kantungnya ke hadapan cowok—yang ia sadar—memerhatikannya sejak tadi.
Cowok ini diam tak berkutik melihat cewek itu sekarang. Sumpah, enggak bohong. Ini cewek cantik banget! Cowok ini terpana. Wajahnya yang putih bersih, mata yang lebar, alis yang terukir rapi, bibir merah muda, suaranya yang lembut, dan senyumnya... Sampai lupa kalau gue lagi di bis neraka ini, pikir cowok ini.
Alis mata cewek ini sedikit dinaikkan. Masih menunggu cowok ini rupanya. Cowok itu berkedip dan mengalihkan pandangannya, menyadari tingkah bodohnya. Tapi cewek ini juga diam di tempatnya. Entah mengapa dia tidak bisa pergi, melangkahkan kakinya dari sana.
Cowok ini sebetulnya tidak biasa. Dia tampan. Ralat, sangat tampan. Badannya mungkin tinggi tegap, alis yang tebal dan rapih, bibir tipis, serta wajah yang agak kebarat-baratan. Kharismanya juga terlihat jelas dari aura wajahnya. Diam-diam, cewek ini mengamati selagi menunggu cowok ini mencari uang setiap saku di jaketnya.
Cowok ini berusaha tenang dan sekarang mencari uang di selipan tas ranselnya. Yah elah, lupa ambil duit dari ATM lagi, keluhnya. Dia ingat hanya ada uang tiga puluh ribu dalam tasnya. Akhirnya dia memilih uang dua puluh ribu dan memasukkannya ke dalam kantung plastik itu. Cewek ini terlonjak kaget melihat besarnya uang yang diterima.
“Beneran ini, Mas?” tanyanya tak percaya. Cowok ini hanya tersenyum tipis membuat cewek ini memekik kegirangan. Baru pertama kali ada yang memberinya—hem.. lebih tepatnya mereka—uang sebanyak ini! Dia berterima kasih sebanyak-banyaknya dan beranjak ke kursi di seberangnya.
Cowok ini menghela napas pelan melihat punggung cewek itu.
Asal kamu tau. Andai tadi ada uang 100 ribu, aku rela memberikannya untukmu.
  


2 – Ketagihan?

“Thir! Fathir!”
Suara panggilan itu membuat cowok ini terkesiap. Dia menolehkan kepalanya ke segala arah, mencari sumber suara sampai akhirnya dia melihat siapa yang memanggilnya.
“Lo tumben masuk? Ada kelas?” Seorang cowok merangkul bahunya dari belakang. Sementara cowok yang dipanggil Fathir tadi berdehem pendek. Mengingat dirinya harus berdebat lagi dengan salah satu dosen killer-nya nanti, membuatnya jengah. Kemudian dia mengeluarkan sebuah berkas dari tasnya.
“Gue mau ketemu Pak Freddy!” jawab Fathir sedikit ketus. Dia merapihkan kertas-kertas yang berjumbel itu dengan satu paper clip lalu menentengnya. Setelah itu tangannya beralih menepis rangkulan Gerry, sahabatnya.
“Hah? Ngapain?”
“Biasa.” Lalu dibalas dengan anggukan pelan dari Gerry. Sudah pasti itu revisian skripsi.
Mereka berjalan melewati taman kampusnya. Kampusnya ini lumayan, bisa dikatakan salah satu universitas swasta yang terkenal di kota Depok. Fathir dan Gerry ini satu sekolah saat SMA maka tak heran mereka dekat seperti itu. Mereka masuk ke jurusan yang berbeda saat kuliah tapi tak memutuskan tali persahabatan yang mereka jalin. Sayangnya minat kuliah Gerry sangat kecil sehingga dia tertinggal satu semester dari Fathir.
“Oh, iya. Entar jadi?” tanya Gerry lalu Fathir mengernyitkan dahinya.
“Enggak tau. Lihat nanti deh. Kalau berhasil, pasti gue ikut.” jawab Fathir penuh teka-teki. Untungnya Gerry dapat menangkap maksudnya dengan jelas.
Mana mungkin gue tidak ingat malam ini? Tanya Fathir dalam hati. Harus manggung di salah satu kafe lagi, menjadi vokalis sekaligus gitaris handal di bandnya. Ini mimpinya sejak dulu, menyanyi dan dihargai. Sayangnya semua jadi tersendat mengingat skripsinya yang harus selesai kalau tidak...
“Gimana kalau lo enggak bisa?” Nada ucapan Gerry terdengar datar tapi wajahnya terlihat cemas. Sambil tersenyum tipis, Fathir menepuk bahu Gerry pelan.
“Oke, gue ralat. Gue pasti ikut.”
***
Berkutat dengan Pak Freddy selama 3 jam penuh membuat batinnya panas. Kesabarannya sudah diuji setelah tadi Pak Freddy merevisi bagian yang awalnya tidak perlu direvisi, lalu nanti dia harus pulang naik bis sialan itu.
Andai kemarin enggak ikut, batinnya sedikit menyesal.
Fathir ingat dia harus pulang malam karena mengiyakan ajakan temannya jalan-jalan ke Puncak. Hanya jalan-jalan seharian, tidak menginap. Itu juga atas nama solideritas sesama kawan SMA-nya. Sayangnya saat dia sampai di rumah, papanya sudah menunggu kedatangannya. Seperti tidak mau mendengarkan penjelasan Fathir, papanya langsung menuding Fathir asyik nge-band dan melupakan skripsinya. Karena sifat papanya yang tidak suka dibantah, dengan berat hati Fathir menyerahkan kunci mobilnya. Fathir mengusap wajahnya sedikit frustasi.
Fathir melangkahkan kakinya keluar kampus dan memasukkan bundelan kertasnya ke dalam tas. Matanya menatap lurus ke depan, tidak mau melihat ke sekelilingnya. Pikirannya terus berkecamuk pelan lalu tiba-tiba teringat kejadian tadi pagi.
Pengamen-pengamen itu!
Apa mereka mengamen lagi kalau sore? Tanyanya dalam hati.
Fathir kembali duduk di kursinya tadi. Bis ini tidak sama persis seperti tadi, tapi intinya tetap sama. Naik bis. Bedanya ini untuk pulang. Bukan berangkat panas-panas seperti tadi pagi.
Telinganya mendengar suara derap langkah berisik dari pintu depan. Jantungnya sempat berdebar, entah mengapa. Cukup lama tidak terdengar suara sampai salah satu dari mereka membuka penampilan.
“Selamat sore..”
Terlihatlah sosok-sosok yang sedang berdiri di depan. Fathir sedikit kecewa. Itu bukan mereka. Ketiga pengamen itu memiliki formasi yang sama dengan pengamen tadi pagi. Tapi mereka bukan orang yang sama.
Tanpa sadar Fathir membuang muka dan tersenyum tipis.
Kenapa gue jadi mengharapkan kedatangan mereka?
***
Fathir membereskan piring makan malamnya dan meneguk segelas air putih. Bik Ijah yang sedari tadi menunggunya makan, langsung siap mengambil piring yang sudah bersih itu. Kepala Fathir melihat-lihat sekelilingnya. Sepi. Baru saja dia makan malam sendirian, tidak ditemani kedua orangtuanya.
“Bi, mama papa kemana?” Fathir bertanya ke Bik Ijah, salah satu pembantu yang bekerja di rumahnya. Bik Ijah yang sedang mencuci piring di dapur, langsung menoleh dan menjawab cepat.
“Oh, kata bapak sih mau ada makan malam sama rekan kerjanya, Den. Pulangnya besok pagi.” jawabnya dengan medok Jawanya yang kental. Fathir tersenyum lebar mendengarnya dan langsung mengambil HP dari saku celananya.
“Oi, Ger. Lo langsung gaspol aja ke rumah gue sekarang. Oke, sip.” Tangannya menggeser layar, memutuskan panggilan. Kepalanya mendongak ke Bik Ijah di seberang meja sambil membangkitkan badannya.
“Bi, kalau papa tiba-tiba pulang, telepon saya ya?”
***
“Terima kasih,”
Tepuk tangan riuh memenuhi seluruh kafe ini. Fathir tersenyum puas melihat pemandangan ini. Dia senang melihat banyak orang yang menyukai penampilannya. Tak sia-sia dia nekat melanggar ultimatum papanya agar tidak nge-band selama menyelesaikan skripsi. Baginya, pemandangan ini lebih dari gelar sarjana yang ia dapat nanti.
Keempat laki-laki di atas panggung itu membangkitkan badannya dan membereskan peralatannya. Mereka yang terdiri dari Gerry, Ryan, Nio, dan tentu saja Fathir turun dari atas panggung. Mereka berjalan melewati sisi kiri panggung sambil bercakap-cakap.
Good job, man!” Gerry menepuk bahu Fathir pelan. Fathir hanya terkekeh pelan sambil membawa gitar dengan satu tangannya.
“Tetep aja kalau enggak ada kalian, mana mungkin bisa sukses malam ini?” ujarnya. Gerry mendengus pelan mendengar kata-kata Fathir itu. Dia tau sebetulnya Fathir yang menjadi pusat dari band mereka ini. Seperti biasa, seorang front man dengan tampang kelas atas dan suara merdu, pasti terlihat lebih menarik dibandingkan pengiringnya. Selalu begitu.
“Iya deh, terserah lo.” Gerry menepis kata-kata Fathir tadi. “Gue kira lo bohong kalau lo mau ikut, ternyata beneran jadi,” Gerry sedikit mencibir. Fathir tidak menggubris kata-kata Gerry itu. Terkadang Gerry bisa lebih cerewet dari papanya sendiri.
“Keren banget lah, kalian ini!”
Fathir menoleh ke samping kanannya lalu tersenyum. Gadis ini bertubuh mungil, berkulit putih, berambut cokelat gelap, dan mempunyai senyum yang manis. Vania, salah satu sahabat Fathir ini selalu berada dimanapun band Fathir manggung. Seperti saat ini, Vania sudah berdiri di sampingnya dan memuji penampilannya.
“Wah, kalau lo bukan sahabatnya udah dijadiin pacar, Van!” timpal Ryan dari belakang Fathir dan Vania. Vania hanya tersenyum simpul sementara Fathir berusaha memiting leher Ryan.
“Atau lo yang mau pacarin Vania, Dick?” tanya Fathir sambil menyeringai usil. Tangannya juga tidak melepas pitingan di leher Ryan. Mata Ryan mendelik lebar, memperingatkan sahabatnya sejak SMA ini.
“Udah gue bilang, jangan panggil gue Dick! Panggil pake nama depan gue! Ryan!” balas Ryan emosi. Fathir terkekeh geli. Ryan memang paling benci dipanggil Dick. Dia hanya mau dipanggil sebagai Ryan, nama depannya. Bukan Dicky, nama tengahnya. Kenapa dia benci dipanggil Dick? Kalau kalian tau artinya pasti sudah senyum-senyum saat ini.
“Hahaha! Panggilan kesayangan dari jaman purbakala itu!” Gerry tertawa geli bersama Fathir sementara Nio sibuk memainkan ponselnya. Hanya Nio yang paling pendiam dan tak tertarik bergabung untuk berisik seperti kawan-kawannya ini.
Sementara Vania tersenyum tipis melihat keakraban band sejak SMA ini. Dia tau seluk beluk band ini. Dari hanya sekedar manggung di acara sekolah mereka dulu sampai sekarang manggung di kafe-kafe, jelas bukan perjuangan yang mudah. Apalagi dia tau ada salah satu personilnya yang dikekang habis untuk berkarir di bidang musik.
Dicky hem.. Ryan merapihkan kerah kemejanya bekas tarikan Fathir tadi. Dia bersungut-sungut kesal menjauhi ketiga temannya ini lalu berjalan menuju toilet. Fathir masih tertawa geli sambil menatap ke arah perginya Ryan.
“Kayak cewek aja. Kalau marah jalannya ke kamar mandi, terus nangis. Habis itu benerin make up deh,” komentarnya diikuti anggukan setuju dari Gerry. Tiba-tiba ada cubitan pedas di lengan Fathir membuat Fathir mengaduh kecil.
“Enggak inget di sini masih ada cewek?” tanya Vania dengan nada seseram mungkin. Tangannya masih mencubit lengan Fathir kencang, bahkan Fathir yakin saking kencangnya akan ada bekas kemerahan di sana. Fathir berusaha melepas cubitan Vania itu tapi yang ada cubitannya semakin kencang.
“Iya! Iya! Ampun!”
“Makanya jadi cowok jangan kurang ajar ya! Disumpahin jadi gay, mau?!” tanya Vania tanpa melepas cubitannya. Fathir terlonjak kaget dan menoleh ke arah Vania yang masih menahan kesal.
“Vania!” serunya kaget. Sementara Gerry sudah beringsut-ingsut menjauhi Fathir. Takut menjadi korban pertama Fathir. Fathir memutar bola matanya kesal, sedikit capek menghadapi sahabat cewek satu-satunya ini.
“Minta maaf, nggak?!” seru Vania galak. Fathir mencibir pelan.
“Minta maaf sama siapa?” Meskipun hanya cibiran begitu tapi Vania dapat mendengarnya. Cubitan di lengan Fathir semakin kencang. Fathir semakin mengaduh kesakitan.
“Sama gue dan Ryan lah! Minta maaf cepet!”
“Iya, maafin gue ya! Ryan sama Vania!”
“Enggak ikhlas banget sih!”
Fathir mendengus kesal. Ini cewek maunya apa sih?
“Vania, gue minta maaf ya udah merendahkan elo. Kalau Ryan entar aja deh, pas anaknya nongol,” Fathir berusaha melembutkan nada suaranya meskipun tetap terdengar tidak rela. Vania hanya menyeringai puas di punggung Fathir dan melepas cubitannya.
“Makanya jangan meremehkan cewek!”
***
Fathir berjalan lunglai keluar dari kamarnya. Skripsi masih ada revisian, tawaran band belum ada, mobil kena sita.. Kurang lengkap apalagi sih sialnya Fathir? Akhirnya dia membuka kulkas di dapurnya, mengambil sekotak susu Ultra coklat. Sebetulnya ini susu punya Adelle tapi biarin amat lah, pikir Fathir saat ingat susu ini bukan punyanya.
“Kak Fathir! Lo buka kulkas?! Jangan ambil susu Ultra gue ya! Dosa!”
Yah elah, baru juga mau gue embat, Fathir mendengus kesal. Kalau aja si Adelle enggak mengingatkan Fathir tadi, pasti susu itu sudah berakhir di tong sampah dapurnya.  Mau tak mau dikembalikan lagi susu Ultra itu ke tempatnya. Matanya sempat mencari sesuatu yang menarik dari kulkas tapi tidak ada. Yang segar dan menarik hanya sayur mayur keperluan Bik Ijah untuk memasak. Setelah menghela napas kesal, Fathir membanting pintu kulkasnya dan berjalan ke ruang tengah.
Fathir menyalakan TV ruang tengahnya dan mencari channel TV yang mungkin dia minati. Hasilnya tetap nol. Baik channel dalam negeri maupun luar negeri tidak ada yang menarik. Fathir memang lebih senang tersesat di luar sana daripada harus terkurung di rumah. Ah! Andai mobil gue enggak kena sita, enggak bakal begini ceritanya! Fathir mengacak-acak rambutnya frustasi.
“Kenapa, Kak? Kok acak-acak rambut?”
Fathir menoleh ke sumber suara yang sudah diketahui pemiliknya itu. Dia melihat Adelle, adiknya sedang meminum susu Ultra coklat tadi. Aduh! Fathir menyipitkan matanya. Susu incarannya melayang!
Adelle mengambil tempat di sebelah Fathir yang tidak mau menjawab pertanyaannya.
“Kak Fathir kenapa sih? Habis diputusin ya? Kok Adelle enggak tau Kak Fathir pacaran?” tanyanya polos.
Bodo amat deh. Fathir merebahkan kepalanya lelah ke sandaran sofa. Dia menutup kedua matanya dengan lengan kanannya, menenangkan pikirannya.
“Kak! Kita jalan-jalan yuk! Bosen!” Adelle merengek sambil menggoyangkan badan Fathir. Fathir yang malas diganggu, masih menutup sebagian wajah dengan tangannya. Dia agak malas menanggapi adiknya yang rewel ini padahal sudah kelas 2 SMA.
“Males. Mending lo jalan-jalan sama pacar lo tuh! Enggak inget mobil gue kena sita?” balas Fathir tanpa merubah posisinya sama sekali. Dia tidak tau Adelle sudah merengut kesal melihat kakaknya yang super tidak perhatian itu.
“Huh! Pantesan aja Kak Fathir susah dapet pacar! Enggak peka sih!” Adelle berjalan meninggalkan Fathir sendirian di ruang tengah. Fathir langsung menurunkan lengan dari wajahnya dan melirik ke arah perginya Adelle. Fathir berdecak heran. Kalau enggak ada mama papa pasti gue yang disamperin. Bik Ijah kek sekali-kali, pikirnya.
Mengingat sifat childish Adelle tadi, membuat Fathir teringat lagi dengan Gea, mantan pacarnya saat SMA. Mereka menjalani hubungan yang cukup lama, 2 tahun. Tapi semua sia-sia karena LDR. Gea tidak siap harus menjalani hubungan jarak jauh itu dengan Fathir. Gea kuliah di Amerika sementara Fathir di Depok. Miris? Memang.
Fathir langsung terkesiap dari tidurnya saat mengingat hari kemarin. Ah! Sudah jam berapa sekarang? Matanya melirik ke jam besar di sudut ruangan. Jam 09.10. Fathir tersenyum penuh arti dan langsung melesat ke kamarnya.
***
Kalian mungkin tidak tau apa yang terjadi hari ini, hari esok, atau seterusnya. Sama seperti Fathir. Dia tidak menyangka bisa berada di dalam bis ini lagi, hanya sekedar ingin bertemu pengamen-pengamen itu. Apalagi dia tidak punya jadwal apapun di kampusnya meskipun dia sudah berencana ingin mengganggu Gerry nanti.
“Duk.. Duk...”
Mata Fathir terjaga. Dia tidak memejamkan matanya lagi. Telinganya mendengar jelas derap langkah tak beraturan itu. Padahal dia baru saja mendengarnya kemarin dan dia ketagihan. Maka dari itu dia di sini, sekedar ingin melihat penampilan pengamen itu. Uang pecahan pun sudah disiapkan di tasnya. Ia tidak mau melakukan kesalahan yang sama seperti kemarin. Lupa bawa pecahan uang untuk berangkat dan pulang.
Fathir sudah duduk manis di kursinya kemarin. Sekarang Fathir sudah menyamar seperti manusia berkepribadian lain. Tidak seperti kemarin yang menggerutu sepanjang hari, dia hanya terdiam di kursinya. Menunggu. Seolah-olah dia menikmati detik demi detik yang dihabiskan dalam bis ini.
Pengamen-pengamen itu membentuk formasinya. Melihat pemandangan itu membuat Fathir tersenyum senang. Di depannya ini benar pengamen-pengamen yang kemarin.
Cewek manis itu pun terlihat lagi. Dia hanya memakai kaus merah dengan label distro, jeans belel di bawah lutut, topi yang diputar ke belakang, dan tentu saja gitar manis di tangannya. Dia melemparkan senyum setiap berpapasan dengan penumpang di dekatnya, takut mengganggu. Cewek itu terlihat sempurna apa adanya. Fathir terpana. Matanya tidak bisa berhenti memerhatikan cewek itu lekat-lekat. Tiap detail dari cewek itu disimpan rapi dalam otaknya, tidak mau menghilangkan kesempatan ini.
Cewek itu menolehkan kepalanya, tepat ke arah Fathir. Kemudian terpaku. Seharusnya dia menyetem gitar setelah itu memberi salam. Tapi tatapan ‘penumpang ganteng kemarin’ itu membuat cewek ini terlupa aktifitas rutinnya itu. Apalagi dia sadar mata cowok itu sedang menatap balik dirinya.
Ehem,” Cewek ini berdehem menghilangkan kegugupannya.
“Selamat pagi, penumpang..”
Fathir menyeringai puas. Sepertinya perjalanan hari ini akan menyenangkan.



3 – Pertemuan Kedua

Bagaimana mungkin bis terkutuk ini menyimpan seseorang seperti ini?
Memandanginya saja aku tidak bosan.
Apalagi mendengar suaranya yang merdu itu.
Fathir mendadak bersyair seperti priyayi dan semua ini terjadi karena pengamen itu. Dia tidak bisa mengelak lagi kalau dia terpana dengan cewek itu. Kepalanya juga tidak mau memalingkan pandangan ke arah lain. Hanya ke depan sana. Cewek itu masih bernyanyi dengan riang, senyum lebar terlukis di wajahnya. Sampai sekarang, Fathir tidak mengerti kenapa perempuan itu bisa sangat menikmati pekerjaan ini.
“Terima kasih sudah mendengarkan lagu-lagu dari kami. Semoga bapak ibu yang ada di sini terhibur. Permisi,” Cewek itu mengeluarkan bungkus besar bekas permen itu dari saku celananya.
Apa? Fathir keheranan. Sudah selesai? Kok cepet banget? Kepala Fathir menoleh ke kanan lalu ke kirinya, memastikan kalau bis ini hampir sampai pintu tol. Yang berarti perjalanan menaiki bis ini sudah selesai. Dan ternyata benar. Sial, umpatnya.
Dengan sedikit enggan, dia membuang mukanya dari cewek itu dan mengeluarkan uang dari tasnya. Uang yang berwarna kehijauan keluar dari sakunya. Fathir berdecak kesal merutuki kebodohannya. Meskipun dia tidak lagi lupa mengambil uang di ATM tapi dia lupa kalau pengamen-pengamen ini akan minta jatahnya. Sedangkan pecahan uang paling besar di kantungnya hanya segitu.
Mata Fathir kembali melirik ke cewek itu. Cewek itu dapat terlihat jelas dari kursinya karena sedang berdiri tidak jauh dari kursinya. Cewek itu masih tersenyum manis. Fathir diam mengamati, mengagumi cewek itu. Hem, andai cewek itu bukan pengamen..
“Permisi?”
Fathir menoleh ke samping kirinya. Matanya mendelik lebar tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Cowok yang biasa memainkan gitar di belakang, sedang menunggu upahnya terhadap Fathir, membuat Fathir heran. Jadi.. bukan cewek itu yang kemari?
Cowok di dekatnya ini yang biasa menemani cewek itu berduet. Seperti tadi, mereka menyanyikan lagu All Of Me berduet. Yah, bisa dibilang Fathir sempat ‘iri’ melihat keakraban mereka. Mereka seperti punya chemistry yang kuat. Teringat hal itu membuat Fathir panas sendiri.
Sambil mengembuskan napas berat, dia menaruh uang itu ke tempatnya. Cowok itu berterima kasih kemudian menjauhi Fathir. Kepala Fathir bergerak mengikuti arah perginya cowok itu lalu membuang muka. Tadinya kalau bukan cowok itu yang ke Fathir, mungkin Fathir sudah bertanya nama cewek tadi siapa. Yah, sekedar tau nama boleh kan?
“Pon! Ada cewek nih nanyain nama lo!”
Tanpa menunggu satu atau dua detik, Fathir menolehkan kepalanya ke asal suara. Ternyata cewek itu yang berteriak, memanggil cowok tadi yang meminta uang kepada Fathir. Cowok yang dipanggil ‘Pon’ itu hanya menyahut tanpa melupakan kegiatannya.
“Tadi juga ada cowok yang nanyain nama lo, Nes!”
Nes? Fathir tertegun. Nama cewek itu ada ‘Nes’ nya ya? Fathir tersenyum tipis. Matanya melihat ke jendela di sampingnya, seolah-olah dia tidak peduli dengan percakapan yang terjadi barusan. Namun kedua telinganya tetap mendengarkan.
“Oh gitu?” Cewek itu menyahut. Suara mereka terdengar nyaring di bis ini. Seperti tidak peduli, mereka tetap mengobrol padahal jarak mereka lumayan jauh. Mungkin karena sudah terbiasa.
“Dia juga minta nomer HP lo!”
“Widih, cakep.” gumam cewek itu lucu.
“Tadi ada juga yang minta pin BB sama ID Line lu!”
“Wadaw,”
“Ada juga yang minta alamat rumah lu,”
“Buset dah,”
“Dia juga minta dikenalin sama orangtua lu,”
“Lo bohong yak?” tanya cewek itu tak percaya. Sekarang dia terlihat lucu dengan mata mendelik lebar dan tatapan marah begitu. Cowok itu menyikapinya dengan biasa dan menunjuk ke salah satu bangku penumpang. Mata Fathir mengikuti arah tunjuk cowok itu. Entah siapa yang dia tunjuk karena arah pandang Fathir tertutup oleh cewek yang duduk di sebelahnya.
“Tanya sendiri deh,”
“Hebat bener gue, ternyata fans gue banyak ya hahahaha!” Cewek itu tertawa keras tanpa malu. Seperti laki-laki. Dia tidak peduli banyak tatapan mata mengarah padanya, Fathir sekalipun. Tangan Fathir mengepal di depan mulutnya, menahan tawa. Dia juga jadi ingin tertawa karena cara cewek itu tertawa. Kesannya kayak lucu banget gitu. Lagipula sekalian menertawai dirinya mengingat dia juga jadi salah satu fans cewek itu.
Setelah mengitari seluruh bis, mereka bertemu di tengah-tengah. Cewek itu melirik isi kantungnya dan tersenyum lebar. Mungkin karena penghasilan dia dapat. Kemudian mereka berkumpul di belakang, mengobrol sambil sesekali tertawa. Fathir tidak menoleh ke arah sana, hanya diam mendengarkan. Dia tidak berniat menguping sih tapi memang mereka saja yang mengobrol tidak tau tempat.
“Lo balik dulu, Nes?”
“Iya. Buku gue ketinggalan.”
Kening Fathir mengernyit bingung. Buku? Buat apa dia ambil buku?
“Mau gue temenin?”
“Ya elah. Enggak usah kali! Sejauh apa sih dari tempat gue ke sana?”
“Ya kali. Siapa tau entar lo hilang,”
“Lo do’ain gue yang enggak-enggak ya?!”
Lalu gelak tawa tercipta di antara mereka. Entah cewek itu berbicara dengan siapa, yang jelas pasti salah satu dari mereka.
Sesampainya mereka di dekat Jalan Baru, pengamen-pengamen itu turun. Mendadak suasana menjadi sepi. Hanya terdengar suara mesin yang lebih keras lalu berubah pelan dan sebaliknya. Fathir menghela napas lelah. Bis ini kembali menjadi bis terkutuk baginya.
***
Fathir melayangkan kakinya dengan langkah cepat. Dia mencari sosok Gerry, penyelamatnya saat tersesat sendirian dalam kampusnya ini. Mereka sudah janjian akan jalan-jalan di luar sebentar, mumpung masih siang. Untungnya kelasnya Gerry sudah selesai.
Oh di kantin, gumamnya sambil membalas Line dari Gerry. Dia pun otomatis berjalan menuju kantin. Di sekitar Fathir, banyak mahasiswa yang asyik mengobrol, atau berkutat dengan laptopnya, ada juga mahasiswi lain yang memerhatikan Fathir. Tampang Fathir yang unik itu membuat mereka terperangah. Apalagi wajahnya yang asing, jadi mudah diingat. Hem, pengecualian untuk Gerry karena Gerry punya riwayat buruk untuk mengingat, termasuk nama dan wajah orang.
Kalian tanya kenapa Fathir tidak mencari teman sekelasnya saja dan bukan Gerry? Oh jelas tidak mungkin. Selain karena jumlah temannya semakin sedikit karena tuntutan skripsi, Fathir juga bukan tipikal orang yang senang punya teman banyak. Satu-satunya teman dekatnya hanya Ashton, cowok kutu buku yang sekarang menjadi asisten dosen kampusnya. Sudah pasti Ashton sibuk.
Fathir berjalan mendekati Gerry yang sedang sibuk dengan laptopnya di kantin. Mata Gerry sangat serius menatap layar laptop. Dia tidak mau mengalihkan perhatiannya sedikit pun. Bahkan tangannya terus mengetik tanpa melirik ke keyboard laptopnya.
“Ngerjain tugas?” Fathir menyembul dari hadapan Gerry. Namun Gerry diam. Tidak bergeming. Saat mulutnya mulai terbuka untuk menjawab pertanyaan Fathir, Fathir sudah terlebih dahulu duduk di sampingnya dan terlihatlah semua kesibukan Gerry. Tanpa sadar Fathir berdecak dan memangkukan tangannya di meja ini.
“Masih aja main begituan,” komentar Fathir setelah melihat Gerry sedang main Alien Shooter. Salah satu game purbakala saat mereka SMA.
Tanpa menoleh ke arah Fathir, Gerry menyengir lebar dan berkata pelan. “Gue jadi inget jaman SMA, man. Haha..” kekehnya pelan. Sambil tersenyum tipis, matanya terus memandangi layar laptop dan melupakan kehadiran Fathir. Fathir kembali menatap layar laptop Gerry malas.
“Jadi enggak?”
Gerry menepuk jidatnya pelan. “Oh iya! Lupa gue hahahahah,” Gerry tertawa lebar tanpa dosa. Dia segera berbenah singkat, membereskan laptop ke dalam tasnya. Fathir menggeleng pelan melihat sahabatnya ini. Benar kan! Pasti dia lupa. Satu-satunya hal yang dia ingat itu hanya jadwal nge-band. Siapa juga yang bisa lupa kalau Nio selalu menelepon Gerry tiap satu jam agar tidak lupa?
***
“Kagak takut? Pulang kena amuk bokap lagi?” tanya Gerry sambil berjalan beriringan dengan Fathir di sebelahnya.
“Mobil gue udah kena sita, Beb. Mau nyita apalagi dia?”
“Sumpah gelik.”
Fathir tertawa.
“Siapa tau abis ini lo dipingit biar enggak bisa kabur lagi. Tambah ribet kan,” tanya Gerry balik.
“Bilang aja gue dari kampus, habis ngurus revisi skripsi. Pasti dia diam. Lagian gue enggak sepenuhnya bohong ini,” jawab Fathir seenaknya. Gerry menyerah. Dia sudah berusaha menjadi sahabat yang baik agar Fathir tidak membuat masalah lagi. Tapi kalau Fathir tidak mau ya sudah. Mau berbuat apa dia?
Terdengar suara gaduh dari arah kiri mereka. Suara jerit cewek kegirangan, suara gitar, suara nyanyian.... Perempuan? Jangan berpikir ini malam-malam, sepi, dan ada suara cewek bernyanyi sendirian. Itu pasti mencekam. Tapi Fathir merasakan perasaan itu padahal ini di tengah-tengah kampus. Kepalanya menoleh ke kirinya dan sepertinya ada pertunjukkan menarik di salah satu sudut taman. Banyak orang yang berkumpul di situ. Membuat Fathir jadi penasaran.
“Hem, pasti mereka deh.”
Fathir menoleh karena mendengar gumaman Gerry yang kurang jelas.
“Apa tadi lo bilang?”
“Ke sana, yuk! Lihat bentar,” ajak Gerry. Tanpa menunggu persetujuan Fathir, dia berjalan lebih dahulu meninggalkan Fathir. Mau tidak mau Fathir mengekor Gerry di belakangnya.
Kumpulan orang yang kebanyakan cewek-cewek ini sedang asyik bernyanyi. Ada juga yang mengeluarkan HP-nya, merekam momen yang pasti akan menyebar di YouTube nanti. Fathir dan Gerry berdesakan di antara mereka dan akhirnya mendapat tempat agak depan dari barisan ini.
Fathir dapat melihat dengan jelas apa yang terjadi di sini. Semuanya. Matanya mendelik lebar. Jadi, sebetulnya dia itu..?
Gerry melirik ke arah Fathir yang masih terpaku di tempatnya. Dia sadar pasti sahabatnya ini tidak tau menahu tentang pertunjukkan gratis ini. Kerjanya Fathir di kampus itu hanya kuliah, belajar, masuk perpustakaan, ke ruang dosen, dan sesekali ke kantin. Pasti tidak sempat melihat pemandangan gratis yang sangat menghibur seperti ini.
Gerry menepuk bahu Fathir pelan sehingga Fathir terkesiap. Fathir menoleh ke arah Gerry yang sepertinya akan menjelaskan sesuatu.
“Ini nih artis kampus kita. Abi, Noval, dan Nesha,”



4 – Namaku Ganesha

Hidup itu tidak adil.
Di saat yang lain asyik-asyikan sama pacar, aku malah sesenggukan dalam kamar. Nangisin mantan. Sumpah, enggak banget. Sebetulnya aku malas mengingat dia. Tapi karena putusnya baru kemarin malam, mau tak mau otakku mengingatkanku terus. Hatiku hancur. Aku putus asa. Aku mau bunuh ayam. Beneran aku enggak sanggup kalau disuruh bunuh diri. Sehancur-hancurnya aku, aku paling anti kalau disuruh menyakiti diri sendiri.
“Sudahlah, Nesha. Mantan lo jangan ditangisin terus. Cowok brengsek kayak dia sih harusnya digebukin sampai mampus,”
Emang dasar ini bocah kalau ngomong enggak disaring dulu. Abimanyu, cowok geblek yang sering aku panggil Abi ini sedang menenangkanku di kamar. Niatnya sih mau menenangkan aku tapi yang ada aku makin enggak tenang. Kepalaku yang tadinya masih tenggelam dalam kasur, langsung terangkat ke arahnya.
“Lo sinting ya?! Gitu-gitu dia pernah pacaran sama gue tau!” balasku nyolot dan kembali menelungkupkan kepalaku dalam bantal. Aku kembali menangis. Aku teringat kejadian kemarin yang memergoki mantan pacarku asyik ‘tanding di atas kasur’ bareng cewek-siapapun-itu-namanya. Padahal rencananya mau bikin surprise ultah dia yang ke 22 tapi malah aku yang dapat ‘surprais’. Alhasil saking kesalnya aku lempar kue blackforest yang mati-matian aku beli setelah sebulan nabung ke muka mereka berdua. Lalu mereka sama-sama bengong melihat aku pergi meninggalkan mereka.
Padahal aku belum ngomong putus loh tapi aku sudah memutuskannya sendiri. Dia pernah bilang kalau sampai putus, bisa mati sekarat depan terminal. Nah loh, kan aku jadi enggak tega ngomong putus di hadapan dia. Meskipun kalau dia masih anggap aku pacarnya, dengan senang hati aku akan melemparnya ke empang dekat kost an.
Huuu. Aku memegangi dadaku yang nyeri. Sakitnya tuh... disini.
“Lagian udah gue bilang jangan pacaran sama dia, masih aja ngeyel. Sekarang siapa yang sakit? Situ kan? Nah sekarang lo harus tanggung akibat perbuatan lo sendiri,”
Kata-katanya menohok. Nyess.. Menusuk tepat ke jantung.
Iya, Abi udah pernah melarang aku mati-matian untuk pacaran sama cowok populer bernama Doni itu. Dia sering bilang kalau Doni itu playboy, Doni itu tukang selingkuh, Doni itu tukang main cewek, dan lain sebagainya. Tapi yang namanya cinta gimana sih? Bahkan Doni terima-terima saja dengan pekerjaan sampinganku sebagai pengamen. Belum lagi perhatian Doni yang melebihi intensitas SMS operator bikin aku pusing. Dia sukses bikin aku galau mau terima atau enggak pas nembak aku 3 bulan yang lalu.
Dan sekarang aku benar-benar menyesali keputusanku waktu itu.
“Kita makan aja deh. Lo lapar kan? Entar gue yang traktir!”
Ini dong dari tadi! Aku langsung bangun dari kasurku dan menyengir lebar ke arah Abi. Abi yang sudah berdiri di depan pintu hanya berdecak pelan lalu keluar dari kamarku.
“Giliran makan aja, semangat.”
***
Kenalan dulu boleh kan? Namaku Ganesha. Umurku 20 tahun. Tinggalnya di kost an Ibu Hajjah Tuti dekat lampu merah Cibubur. Sekarang sedang kuliah semester 4 jurusan Sastra Inggris di salah satu Universitas Swasta di Depok. Canggih kan? Padahal aku benar-benar tidak bisa Bahasa Inggris tapi kerennya ambil jurusan maut seperti itu. Cakep.
Kalau orang yang seumuran denganku nih pasti sedang asyik hangout ke tempat-tempat nongkrong atau di mall. Aih, bayanginnya aja geli. Sejak aku pindah ke Jakarta, aku sudah enggak pernah lagi ke mall. Sayang. Buang-buang duit. Kalau ke mall juga pasti nunggu traktiran temen. Jadi, here I am, aku di dalam bis. Mengamen seperti biasa. Buat cari penghasilan tambahan selain uang transfer dari bapak.
Aku sering mengamen dari daerah Bekasi sampai berhenti di dekat Jalan Baru. Biasanya pagi-pagi aku langsung jalan bareng Abi ke rumah Noval yang letaknya di Bekasi. Sekalian numpang sarapan gitu. Setelahnya kami bertiga ngamen dari Bekasi sampai Kampung Rambutan. Penghasilan yang aku dapat lumayan kalau dibagi tiga. Kira-kira ya bisa buat makan seharian.
“Dapet berapa nih, masing-masing?” Abi memeluk gitarnya yang bernama Sella di depan dadanya. Hampir semua gitarnya diberi nama. Biar enggak ketukar, katanya.
Aku bergumam sambil menghitung kembali. “Kira-kira 35 ribu. Bagus deh, kita mengalami surplus hari ini,”
“Bahasa lo neng, neng. Kayak anak kantoran.” Noval, cowok Sunda tulen yang biasa memegang kajoon hanya berdecak pelan melihatku. Dia ini sebetulnya lumayan cakep. Tampangnya jangan ditanya. Bener-bener bikin mata sakit saking gantengnya. Kalau kata orang sih mirip Siwon SuJu tapi kalau kata aku sih enggak. Beneran deh, cakepan Doni malah daripada dia. Doni kan cakepnya dalam negeri. Sementara Noval enggak.
Aku memeletkan lidahku ke arah Noval. “Sekali-kali boleh dong. Siapa tau entar ada CEO ganteng naksir sama gue. Terus gue dinikahin deh dan jadi istri pengusaha. Aih, ciamik banget hidup gue,” kekehku geli. Dengan cepat tangan Abi menjitak ujung kepalaku, membuat aku meringis kesakitan.
“Kalau ngomong dijaga ya. Entar kalau bener kejadian gimana?” tegurnya. Aku memutar bola mataku kesal. Lagipula apa jeleknya sih harapanku tadi? Selain itu, mulutnya Abi juga tidak ada bedanya denganku. Sama-sama kayak kran bocor.
Abi ini cowok ‘unyu super ganteng’ yang kerjanya nempelin aku terus. Saking dekatnya, sering banget aku dikira pacaran sama dia. Padahal? No way ya! Aku sama dia kan teman dari kampung jadi pasti dekat banget. Belum lagi dia beda setahun di atasku makanya seringkali sifatnya lebih kebapakan. Sok banget dewasa.
Aku, Abi, dan Noval sama-sama kuliah di Universitas yang sama. Bedanya aku mengambil Sastra Inggris sedangkan Abi dan Noval IT. Mereka seangkatan dan satu kelas. Kemana-mana pasti bareng. Aku aja sempat bingung kenapa mereka selalu ditakdirkan berduaan. Apa mereka memang jodoh atau kembar tak terpisahkan?
Aku ini pindahan dari kota Semarang. Jauh kan? Abi juga sama. Makanya karena aku sempat gagal masuk PTN di Depok, Abi menawarkan untuk kuliah satu kampus dengannya. Karena aku sudah bingung mau apa ya aku nurut-nurut saja. Tapi entah kerasukan jin mana, aku ambil Sastra Inggris.
Kerennya, saat mengamen kami selalu pilih lagu berbahasa Inggris. Sekalian melatih lidahku agar enggak terpeleset ngomong Bahasa Inggris. Aku juga kurang suka dengan lagu dalam negeri. Tapi kalau yang jadul-jadul sih boleh ya.
“Sekarang kita ngampus yuk. Mumpung sepi order,” ajak Noval. Dia membangkitkan badannya dan menaruh kajoon nya di dalam kost an ku. Kebetulan kost an ku itu lumayan luas karena ada halaman dan teras di depannya. Malah kost anku ini lebih mirip kontrakan dibandingkan kost-an. Enggak heran kalau dua anak kunyuk ini sering main ke sini. Belum lagi letak kost an Abi juga tidak terlalu jauh dari kost an ku.
“Najis. Order-order.. Lo kira kita bisnis katering?” cibir Abi. Dia juga ikut membangkitkan badannya dari lantai teras kost an ku dan menenteng Sella.
“Udah deh. Don’t nge-bacot depan kost an gue yang tentram ini. Gue mau beresin tas dulu. Mending kalian balik ke kost an terus ambil motor,” saranku cepat sambil masuk ke dalam kost an. Mereka hanya mengangguk dan berjalan pergi keluar. Aku segera menaruh gitar yang tadi di pangkuanku lalu berlari ke kamar. Bersiap-siap.
Tak lama kemudian, mereka sudah sampai di depan kost anku. Nah, gimana mereka enggak digosipin homo kalau naik motor aja rapetnya kayak lem. Belum lagi hobinya berduaan mulu.
“Mana kunci motor lo?” Noval turun dari motor Abi dan menghampiriku. Yah, selalu seperti ini. Noval membawa motorku ke kampus sementara aku berboncengan dengan Abi. Katanya sih lebih baik sendirian daripada harus bonceng bareng sama Abi.
Aku menyerahkan kunci motor dan mengunci pintu kost an. Sambil berlari ke motor Abi, aku menggunakan helm di kepala biar enggak keliatan cakepnya. Muahaha. Aku melihat Noval yang sudah siap dengan motorku dan kami segera melesat pergi ke kampus.
***
Padahal pagi ini enggak terik-terik banget sih. Jam setengah sepuluh. Tapi panasnya... Bener-bener bikin haus kayak di gurun Sahara.
Aku memesan dua botol aqua sambil menunggu kelasku tiba. Sambil memainkan game online dari HP-ku, aku meneguk aqua gelas ketiga yang baru kupesan. Sumpeh ini kampret banget sih musuhnya, keluhku sampai geregetan sendiri.
“Enggak ada kelas, Nes?” Monik, salah satu teman seperjuangan yang aku temukan di kampus menyeringai lebar. Dia mengambil kursi di hadapanku sambil bertopang dagu. Aku yang sedang asyik main HP mau tak mau mengangkat kepala menatapnya.
“Bentar lagi masuk. Lagian kelas gue mah dikit cuy, bentar lagi juga gue skripsi,” cengirku lebar. Monik jengah melihatku yang PD akut di hadapannya.
Haha, meskipun aku memang tidak bisa Bahasa Inggris tapi bukan berarti otakku itu stuck banget ya. Untungnya aku diwariskan memiliki otak sepintar Enstein padahal aku anti banget sama Bahasa Inggris. Makanya tidak heran aku mengambil kelas banyak saat awal tahun sehingga sekarang kelasku sedikit dan tinggal menunggu UAS.
Monik ini cewek unik yang aku temukan di kampus. Kerjanya cuman ngalor ngidul keliling kota demi organisasi anehnya. Meskipun dia sibuk tapi kuliahnya enggak pernah macet. Mulusss... terus kayak jalan toll.
“Sumpeh banyak gaya banget lu,” katanya sambil membetulkan letak kacamatanya. Aku hanya mengendikkan kedua bahuku tak peduli sambil terus berkonsentrasi dengan musuh kampretku ini.
“Nesha,”
Deg! Aku tau betul suara siapa ini. Lebih baik aku tidak menanggapi, kataku dalam hati. Tapi dia tidak menyerah dan terus membujukku.
“Nes, aku mau bicara sama kamu,” katanya pelan. Kata-katanya sedikit memelas, membuatku sedikit kesal kenapa cowok ini lemah banget. Pas awal-awal pacaran sih hangat banget orangnya tapi akhir-akhir ini enggak tuh! Dingin. Jutek. Ternyata karena ada cewek lain ya.
Aku menoleh ke arah Doni yang berdiri di belakangku. Betul kan. Mukanya sok banget minta belas kasihan. Aku hanya menatapnya datar tanpa ekspresi. Berharap dia mengerti aku tidak ingin bicara.
Please, forgive me.” Everything for you, Beb! HAH! Itu duluuu! Duluuu sebelum kamu cuek ke aku, aku pasti jawabnya gitu. Sumpah aku jadi merinding sendiri kalau mengingat-ingat hal itu.
Aku beranjak dari kursiku agar berdiri sejajar dengannya. Meskipun masih lebih tinggi dia sih.
“Masih berani juga dateng ke gue? Kemana ceweknya yang kemarin? Yang ada di kasur lo itu? Enggak dibawa sekalian ke sini?”
“Maaf. Sorry banget udah nyakitin kamu. Aku enggak tau ternyata kamu bikin surprise buat aku. Kamu sukses banget bikin aku terkejut saat itu,”
HAHAHA, tawaku dalam hati. Ya iyalah lo terkejut, kemaren malem kan lagi sibuk sama cewek itu!
“Kita putus atau gue lempar lo ke kantor dekan?” desisku. Mataku memicing tajam ke arahnya dan kepalaku sedikit mendongak. Doni meringis. Dia pasti tau aku punya sejarah sabuk hitam taekwondo.
“Oke, aku pergi. Tapi sekali lagi aku minta maaf, Nes. Apa enggak ada kesempatan lagi buat aku?”
“PERGI GAK LO?!” bentakku kesal. Bahkan satu kantin ini sampai terlonjak kaget. Mereka tidak menyangka aku berani membentak salah satu ‘pangeran’ di kampus.
Dengan berat hati, Doni melangkahkan kakinya menjauhiku. Aku membuang pandangan darinya sambil membereskan aqua kemudian tasku. Dari sudut mataku, aku tau Doni sempat menoleh ke arahku tapi aku ogah membalasnya. Hih, malas banget!
Mataku melirik ke jam tangan sport di tangan kiriku. Jam 10. Eh buset! Kelasku sudah mulai! Sambil tersenyum ke arah Monik, aku beringsut-ingsut pergi dan berlari ke kelasku di lantai dua.

***
(bersambung ke wattpad ya)

You May Also Like

4 comments

  1. pibesdey deh buat om fathir, dan congrats buat dua anaknya tante nesha :p

    mantafff ceritanya mbak, numpang nyanyi aahhh:

    You know I want you in the worst waaaaay!!!
    I need you like cake on my birthdaaaaay!!!
    The way you operate is so sweeeeet!!!
    I need you like cake on my birthdaaaaay!!!

    Ba da ba da ba, ba da ba da ba

    ReplyDelete
  2. Update lagi dong, thanks, blog inspirasi saya 👍

    ReplyDelete
    Replies
    1. wow dibilang menginspirasi pdhl blog nya biasa bgt huhu

      Delete

Jangan malu-malu kalau mau comment. Feel free to share thoughts!
Kecuali buat para iklan-iklan enggak jelas, you're not welcome here.